Minuman tradisional daerah Jawa Barat ini sukses dipasarkan di Medan, oleh Hafiz Khairul Rijal. Dia adalah lulusan S1 Teknik Industri, Universitas Sumatera Utara, tahun 2005. Dia memulai bisnisnya es dawet ini mulai tahun 2006. Dan sekarang sudah berkembang dengan telah mempekerjakan karyawan sebanyak 27 orang. Dalam usahanya ditunjang pula oleh beberapa unit mobil, dan sepeda motor, serta ratusan armada gerobak untuk berjualan es dawet, dengan laba puluhan juta rupiah sebulan. Ia juga telah membeli hak paten resep dan bahan baku es dawtnya senilai 50 juta rupiah.

Dia menekuni dunia usaha semenjak duduk di bangku mahasiswa, semenjak tahun 2000, segala jenis usaha pernah dicobanya diantaranya berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong sayur, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering dan MLM.

Kegagalan demi kegagalan dia lalui, meski menyakitkan, hal tersebut membawa hikmah. Dia merenungkan kegagalan itu dan berpendapat, usaha yang dilakukan dulu gagal karena dia tidak fokus dalam membangunnya, tidak konsisten dan tidak presisten. Segala macam usaha itu dicoba tanpa didalami terlebih dahulu, begitu merugi ia langsung beralih ke usaha yang lain. Dengan kegagalan-kegagalan itu, ia memutuskan untuk menjadi penerjemah di misi perdamaian Aceh.

Gagasan kembali berbisnis diawali dari sebuah liburan pada saat pulang ke Medan. Dia singgah di kaki lima sebuah jalan dan menikmati segelas es dawet. Dan dia memulai obrolan ringan dengan penjualnya, dia mulai tertarik dengan pendapatan yang dihasilkan, dengan modal Rp 300 ribu per gerobak, pemiliknya bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 100 ribu. Karena pemilik mempunyai 25 gerobak, maka laba bersihnya per hari mencapai Rp 2,5 juta. Dalam sebulan pemilik yang hanya tamatan SMA mendapatkan laba hingga Rp 75 juta, padahal cukup duduk di rumah, karena yang berjualan orang lain.

Hafiz mellihat kalo manajemennya ditingkatkan akan menghasilkan lebih baik lagi. Dalam bayangannya untuk memulai tidak boleh gengsi, tidak malu mendorong gerobak dan berjualan di kaki lima. Tapi sebelum memulainya dia mempelajari seluk beluk perdawetan secara sungguh-sungguh. Akhirnya ia mendekati penjualnya untuk meminta ijin berjualan dawet, dengan uang jaminan Rp 1 juta, akhirnya ia mendapat pinjaman satu gerobak dan mengambil es dawet sebanyak 50 gelas dengan harga Rp 60 ribu. Dengan gerobak itu dia berjualan di kawasan Sumber, Padang Bulan, Medan. Karena laris manis, dan melihat potensinya, Hafiz memutuskan untuk merekrut karyawan dan memutuskan membuka satu cabang lagi di daerah Setia Budi.

Selama dua tahun Hafiz hanya menjual dan mengambil bahan, baru bulan Mei 2008 ia dipercaya membeli hak paten bumbu es dawet dengan harga Rp 50 juta. Babak baru dimulai, dia memproduksi es dawet secara mandiri dan mendaftarkan merek dagangnya. Ia juga mendaftar ke Departemen Kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan sertifikat halal.

Langkah berikutnya adalah menerapkan sistem waralaba (franchise) agar usaha ini semakin berkembang. Para pewaralaba (franchisor) selain mendapatkan resep dan bahan baku dari Hafiz, mereka juga mendapatkan pelatihan cara melayani, menjaga penampilan, dan menjaga hal-hal kecil lainnya yang umumnya jarang diperhatikan orang agar usaha ini tetap maju. Dengan konsep yang jelas dan keuntungan yang besar (mencapai 50% dari modal yang diperlukan), waralabanya berkembang pesat, dari 27 armada yang telah dimiliki, bertambah 60 gerobak mitra waralabnya. Dan pasarnya berkembang hingga ke Aceh, khususnya di Banda Aceh, Sigli, Lhoksumawe dan Langsa.

Pada bulan Oktober 2008, Hafiz juga mendapat kucuran kredit program kemitraan dari Bank Mandiri sehingga bisa menambah 50 gerobak lagi untuk pasar kota Medan. Dan sekarang Hafiz mulai mengincar beberapa makanan khas Jawa untuk diboyong ke Sumatera, dan sebaliknya. Dalam memajukan usahanya, Hafiz memiliki prinsip ATM: Amati dengan baik, Tiru hal-hal yanng baik dan positif, dan Modifikasi produk agar menjadi lebih kompetitif.

Tugas:

Berikan komentar dalam box komentar yang ada di bawah. Untuk pertama kali memberikan komentar cantumkan NAMA dan NPM. Untuk komentar berikutnya bisa langsung berkomentar.

Komentar yang dihitung sebagai absen, apabila komentar diposting sebelum hari RABU, 4 MEI 2011, Pkl. 18.00.

Terima kasih selamat berpartisipasi

Best Regard,

Ary DJ